Piala Futsal Pertama Ibra

Sabtu, 31 Oktober 2026, hari yang dinanti Ibra akhirnya datang. Futsal tournament day. Hari dimana dia akhirnya officially turun ke lapangan untuk laga perdananya. Hari dimana dia ngerasa bangga sekaliii dengan pencapaiannya terpilih masuk ke tim inti futsal sekolah (tim A) padahal baru 2 bulan join ekskul futsal. 

Ah, masih segar diingatanku betapa antusiasnya dia menyampaikan kabar bahwa akan ada turnamen futsal di akhir bulan Oktober, dan dia akan mengikuti seleksinya di minggu itu. Saat itu matanya berbinar, semangatnya menyala. Aku tau ini momen yang paling ia nantikan. 

Tepat seminggu sebelum hari H, berita gembira itu akhirnya sampai ke telingaku. Ibra lolos seleksi. Dia terpilih di tim A. Wah jangan tanya gimana reaksi dia, si sulung pun ikut antusias mendengarnya. “I know he would definitely make it to the team” kata bang Barra sumringah. Berasa punya penerus ya andaa haha.

Saat tiba hari pertandingan, kami semua pergi mengantarnya, tanpa kecuali. Bahkan bang Barra yang hari itu sebetulnya juga ada jadwal latihan futsal untuk persiapan turnamen pun menyempatkan hadir untuk mensupport adiknya. Beberapa kali kulihat dia memberi arahan kepada Ibra di pinggir lapangan yang diperhatikannya dengan serius. Beberapa kali pula dia melontarkan kalimat pujian saat adiknya berlaga, “Bagus Bra!”, “Itu dia, that’s ma bro”, atau “Lihat posisinya Bra, fokus!”. Aku sontak tersenyum melihatnya.

Di awal laga, pelatih sempat menempatkan Ibra di posisi penyerang. Tapi menurut Barra kurang efektif, “Ibra tuh nyawanya di belakang, anchor dia tuh” (anchor; pemain bertahan akhir di depan kiper yang tugasnya menjaga pertahanan tim atau menghentikan serangan lawan di area berbahaya). Jujur awalnya ku tak paham. Tapi benar saja, begitu di game berikutnya posisi Ibra dirubah ke belakang, permainannya makin menyala. 

Aku tau si bungsu berbakat. Aku tau sebesar apa cintanya pada si bola bundar ini. Tapi sungguh ku tak menyangka,  makin dewasa dia, makin cemerlang skill permainannya. Baru kali ini benar-benar kulihat dia serius bermain, berhasil menghalau penetrasi lawan, berhasil merebut bola dengan mudahnya tanpa aksi fisik sedikitpun dan berhasil mengatur ritme permainan. In short, hari itu pertama kalinya kulihat anak bungsuku bermain “cantik” bak pemain profesional yang jam terbangnya sudah tinggi. 

Dari 6 game, Ibra “dimainkan” full time di 4 game terakhir dengan total 5 gol yang ia peroleh. Posisinya mantap sebagai jangkar tim, juga eksekutor tendangan free kick dan penalty yang beberapa kali diperoleh timnya. 1 tendangan saat kemelut di mulut gawang, 1 tendangan penalti, 1 tendangan free kick dan 2 tendangan kick off. Menurut pelatihnya, Ibra dipilih sebagai eksekutor penalty karna dia berpengalaman main di lapangan besar ketika masih berlatih di SSB Timah dulu, sehingga tendangannya lebih akurat dan powerful. 

Betul saja, kami sungguh tak menyangka saat kaki kecilnya 2x berhasil melesakkan bola yang ia tendang tepat dari tengah lapangan saat kick off ke dalam gawang lawan. Jauh, kencang dan tentu saja diluar kendali kiper lawan. Tendangan terakhir bahkan dia lakukan saat tubuhnya sudah sangat lelah dan berharap pelatih mengizinkannya bertukar pemain. Tapi pelatih memintanya bertahan sedikit lagi, dan keputusan itu ternyata tepat karna gol dari titik kick off yang Ibra lakukan menjadi penentu kemenangan tim hari itu. 

Gol tersebut berhasil merubah angka menjadi imbang sebelum peluit panjang mengudara. Karna skornya imbang, dan lawan sengitnya pernah kalah, maka berdasarkan perolehan total poin, tim futsal Semut-Semut lah juaranya. Dari 6 game; 4x menang, 2x seri. Di salah satu game yang menurut anak-anak ini lawannya cukup tangguh pun berhasil mereka taklukkan dengan skor akhir 5-1. 

They deserve the win. Untuk tim usia 8-9 tahun, permainan mereka sungguh menawan. Rotasinya rapi, paham posisi masing-masing dan yang paling penting mampu menahan ego dimana anak usia segitu biasanya “tergiur” untuk langsung shooting begitu nerima bola, tapi anak-anak ini mampu membaca situasi dan bersabar agar permainan bisa sedemikian rapi dan cantiknya; mengacak-acak pertahanan lawan dan membuat mereka frustasi karna tak sedikitpun diberi celah untuk masuk ke area berbahaya.

Big applause to their coach, keren bgt! Dan tentunya 15 anak yang hari itu luar biasa hebatnya. Aku paham betapa bangganya Ibra berada di dalam tim itu, dan aku sangat bersyukur kesempatan ini sungguh menjadi rejeki anakku.  Good job Ibrahim, BANGGA!   

Komentar

Postingan Populer