Kisah Pilu di O2SN Perdananya Barra

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Weekend kemarin, Sabtu 16 Mei 2026, Barra mengikuti Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (O2SN) cabang Atletik tingkat kota Depok. Ada 3 cabang atletik yang diperlombakan, yaitu lari cepat (sprint), tolak peluru dan lompat jauh. Barra terpilih mewakili sekolah bersama sahabatnya, Aleeya, di ajang bergengsi tahunan yang digelar Dinas Pendidikan. 

It’s a new thing for him, also for us. Biasanya kan kejuaraan yang Barra ikuti ngga jauh jauh dari sepak bola. Nah, kali ini ganti cabor, atletik. Wow, I was shocked. Katanya dia dipilih setelah beberapa kali mendapatkan nilai tertinggi di PE, mapel lari cepat (sprint) di sekolahnya. 

Latihan persiapannya ngga main-main lho. Barra dan Aleeya dilatih langsung sama guru PE mereka, kak Fikri. Latihannya dilakukan minimal 2x dalam seminggu, sepulang sekolah dan terkadang di hari libur. Latihan sprint dilakukan di beberapa tempat, kadang di lapangan walikota Depok atau kadang di lapangan sepak bola Timah. Sementara latihan tolak peluru dan lompat jauh dilakukan di lapangan sekolah usai jam belajar berakhir. Jujurrr merinding sih liat porsi latihannya yang udah kayak latihan militer. Latihan fisiknya banyak dan intens. Pokoknya Barra tepar begitu sampe rumah. Salut lah sama kedua anak ini yang semangat betul latihannya, ngga pernah sekali pun bolos.

Jelang lomba sebenarnya kondisi fisik Barra sempat menurun. H-3 seluruh badannya sakit, dan tumben banget dia sampe minta didatangkan tukang pijat. Aku tau dia kelelahan. Tubuhnya sudah menjerit minta istirahat. Aku menurutinya meskipun sudah wanti wanti ke terapisnya supaya pelan pelan saja memijat badannya. Alhamdulilah hari H badannya enakan. Dia merasa siap dan percaya diri untuk berjuang. 

Hari itu kami tiba jam 7 pagi di lokasi lomba, smp Budi Cendekia Islamic School, Depok. As expected, peserta yang ikut buanyak! Dari seluruh smp se-kota Depok. Setelah melakukan registrasi dan ambil nomor peserta, Barra dan Aleeya pun bersiap pemanasan sebelum akhirnya mengikuti seremoni pembukaan. 

Lomba dimulai dari cabang lari cepat putri, sementara yang putra masih menunggu giliran. Rasanya deg-degan banget begitu tiba giliran tim putra maju. Ada rasa bangga, haru dan cemas begitu nama Barra dan nama sekolahnya mengudara lewat pengeras suara. Oh, his turn. Suara teriakan pelatih yang menyuarakan ‘fokus Barrr” memecah hening begitu para pelari melesat di lintasan. He didn’t make it. Barra finished in fourth place. Aku bisa lihat kekecewaan di wajahnya :(

Suasana mulai agak mencair ketika Barra berhasil melakukan tolak peluru dengan nilai tertinggi di dua kloter awal. Yes betul, masih ada beberapa kloter peserta lain yang belum selesai di lintasan sprint, jadi peluang nilai Barra tergeser oleh peserta lain pun masih sangat memungkinkan. 

Hari itu kami harus membagi waktu dengan si anak tengah yang kebetulan juga ikut kejuaraan renang di tempat berbeda. Kenjiro harus hadir di gor Ciracas jam 12 siang yang artinya kita terpaksa ninggalin Barra di pertengahan lomba, menitipkannya pada pelatih dan orang tuanya Aleeya yang saat itu juga hadir. 

My heart sank when kak Fikri sent me a chat about the result. Barra failed. He lost all the games, while Aleeya alhamdulillah won the gold medal for the women’s shot put. Bisa kubayangkan wajah Barra meski dia ngga didepanku. Langsung bisa kurasakan kekecewaannya. Kami pun bergegas menjemputnya di rumah Aleeya yang ketika itu orang tuanya berbaik hati membawa Barra pulang lantaran kami masih menunggu hasil lomba Kenji. 

We let him in silence begitu dia masuk mobil, sengaja memberi ruang supaya dia merasa nyaman. Dari diamnya, bisa kutebak dia kecewa berat, dan sialnya itulah yang membuatku ikut frustasi. Diam diam kuberharap dia segera meluapkan emosinya, tidak memendamnya sendirian. 

Alhamdulillah akhirnya tangisnya pecah setelah sholat maghrib. Ini kali pertama kulihat dia menangis saat gagal di perlombaan. Selama ini Barra selalu berbesar hati menerima kekalahan. Tapi kali ini, emosinya meluap. 

Ku peluk dia erat sambil mengusap punggungnya. Ngga tau harus bagaimana merespon ketika dia bilang “Aku udah abis-abisan berusaha untuk ini mi, kenapa aku ngga menang? Apa usahaku ga cukup keras? Apa aku ngga layak untuk menang? Kenji yang first timer ikut lomba renang aja menang, KENAPA AKU ENGGA??”. Aku pun ikut menangis bersamanya. 

Setelah kupeluk lama dan dia lelah dengan emosinya, akhirnya dia membaik. Tidak sepenuhnya ikhlas, tapi dia mulai bisa menerimanya. Efek kekalahan ini cukup signifikan rupanya, ngga cuma di mental, fisiknya pun ikut ambruk. Malam itu Barra demam, badannya terasa sakit. Aku sengaja mematikan whatsapp-nya. Ku tau banyak temannya yang peduli menanti kabar darinya, tapi demi kebaikannya, hp-nya kumatikan sementara waktu. 

Nak, Barra sayangku, maafin dirimu ya, nak. Kamu udah berusaha. Kamu sudah maksimal nge-push tubuhmu untuk memberikan yang terbaik di perlombaan ini. Hanya belum rejekimu, nak. Belum waktunya medali itu melingkar di lehermu. Belum waktunya kamu menyumbang penghargaan untuk sekolahmu. Tapi sungguh kamu sudah luar biasa. 

Ngeliat betapa kerasnya kamu menghabiskan hari-hari dengan latihan berat itu aja sudah cukup bikin mami getar, sekilas pun ada rasa ngga rela ngeliat kamu seperti tersiksa, tapi kamu selalu nunjukin kegigihanmu, niatmu untuk berjuang demi nama baik sekolah, yang buat mami pun mengizinkannya. Jadi tolong jangan pernah menyalahkan dirimu, nak. Akan ada kesempatan di lain waktu. Hari ini biar jadi pengalaman berharga. Menang ngga selalu tentang piala, nak. Buat kami, kamu sudah menang dalam banyak hal, kamu sudah lebih dari cukup membanggakan kami :)








Komentar